Melihat Lautan serta Mendaki Gunung Anak Krakatau

posted on 26 Sep 2015 16:20 by pakargayahidupbagus
Di terminal Kampung Rambutan, terlihat kira-kira pemuda-pemudi dengan tas punggung warna-warni asyik bercengkerama. Salah satunya merupakan saya. Kami menyukai bus malam yang akan membawa aku ke pelabuhan Merak. Tujuan liburan kita kali ini adalah Anak Krakatau yang terletak di Selat Sunda.

Masih banyak secara menyebutnya sebagai open trip gunung krakatau, padahal Krakatau sudah meletus dgn hebatnya pada tahun 1883 hingga menewaskan kurang lebih 36. 000 jiwa. Saat tersebut, seluruh dunia diselimuti suasana yang saru dan mencekam. Talun letusannya terdengar terlintas 4600 kilometer jauhnya, semburan debu vulkaniknya mencapai 80 meter dan muntahan kerikil vulkaniknya berhamburan di Sri Lanka, India, Pakistan, Australia serta Selandia Baru.

Pendapat sejarawan, Gunung Krakatau pun masih memiliki "ibu" yaitu Gunung Krakatau Purba (Gunung Batuwara) yang ketika meletus memisahkan darat Jawa dan Sumatera. Tepi-tepi kawah Krakatau Purba dikenal dgn Pulau Rakata, Daratan Panjang dan Daratan Sertung.



Kami pergi menuju pelabuhan Merak dari terminal Kampung Rambutan dengan memanjat bus yang ongkosnya 17. 000 yen (sebelum bbm naik) pukul 23. 50 dan tiba jam 4. 10 subuh. Tungpeng selaku presiden rombongan langsung menggiring kami semua di loket kapal ASDP dan menyeberang di Bakauheuni, Lampung.

Selama 2, 5 weker perjalanan laut, kita hanya duduk bercengkerama di dek kapal sambil makan cemilan dan menikmati hembusan angin laut. Saking asyiknya, tidak berasa langit sudah terbuka dan tahu-tahu bahtera sudah tiba di Lampung.

Turun atas kapal, kami saksama mencari angkot buat disewa ke dermaga Canti, tempat yang mana kami akan dijemput oleh kapal gawang mengeksplor kawasan Anak Krakatau. Karena lapar, kami sempat habis di tengah-tengah prosesi untuk makan cepat di sebuah warung nasi dan sulit jalan lagi.

Matahari belum tinggi tatkala kami tiba di dermaga Canti. Beker menunjukkan pukul 7. 40. Terlihat bahtera kayu yang kami sewa sudah menunggu.

Harga sewa kapal kayu ini kira-kira 2-2. 5 juta per kapal dengan maksimal penumpang 20 orang. Ketika diberitahu bahwa nanti pada perjalanan menuju Pulau Sebesi (tempat kita menginap) kami mau snorkeling di wilayah Pulau Sebuku, segala langsung bergegas di kamar mandi & berganti baju renang. Sehingga ketika kita sampai di Sebuku, semuanya siap nyebuuuuuurrrr....

Berpapasan dengan warga lokal yang pada itu menyeberang dari Sebesi menuju Dermaga Canti. Motor juga diangkutnya pakai kapal itu. Saking ramahnya mereka melambaikan tangan.

Lega bermain air dalam Sebuku yang biru, kapal bertolak menuju pulau Sebesi. Aku langsung diantarkan ke guest house milik Pemerintah daerah & dibagi dua ruang, perempuan dan laki-laki. Satu kamar siap menampung 10-20 manusia dengan tarif 200 ribu per silam. Kalau musim perlop, rumah-rumah penduduk juga disewakan untuk wisatawan. Oh ya, listrik hanya hidup atas jam 06. 00 sore hingga 00. 00 WIB.

Comment

Comment:

Tweet